Dinamika Kehidupan Masyarakat Era Orde Baru dan Reformasi
Dinamika Kehidupan Masyarakat Era Orde Baru
Jika kita membandingkan kehidupan masyarakat, era orde baru dan reformasi banyak di titik beratkan oleh keadaan kehidupan, masyarakat multikutural (beraneka ragam budaya) Maupun masyarakat individual. Karena seseorang manusia hakikatnya adalah makhluk sosial, yang artinya manusia tidak dapat hidup seorang diri, kita bisa bandingkan masyarakat era orde baru dan reformasi.
A. Era Orde Baru
Setelah Presiden Soeharto dilantik menjadi Presiden ke-2 Indonesia pada tanggal 12 maret 1967. Beliau langsung menata kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Kita akan membahas Kehidupan sosial di era ini. Pada kehidupan masyarakat beliau langsung mengatasi dengan pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Jadi beliau langsung mengatasi masalah yang diselesaikan secara Demokrasi Pancasila. Yang dimana, pada tahun 1968 Ali Moertopo mengagas peleburan (fusi) partai. Tetapi rencana tersebut baru terlaksana setelah pemilu pada tahun 1971. Hal ini kemudia terwujud pada tahun 1973 sewaktu semua partai yang awalnya berjumlah-11 menjadi 3 partai : Golkar (Golongan Karya), PPP (Partai Persatuan Pembangunan) yang berbasis Islam, dan PDI (Partai Demokrasi Indonesia) yang berbasis Nasionalis dan Katolik. Ali Moertopo menjelaskan bahwasanya partai-partai tersebut agar mudah dikontrol dan dikendalikan. Dan Ali Moertopo pada tahun 1971 bersama Soedjono Hoemardhani (asisten pribadi Soeharto), mereka ber-2 yang merintis pendirian CSIS (Centre for Strategic and International Studies) yang merupakan Lembaga think tank, merupakan Lembaga yang merupakan wadah pemikir bagi kebijakan pemerintahan Orde Baru. Dan di lembaga CSIS, Ali melakukan kinerja intelijen yang sangat rapih. Beliau tidak segan-segan untuk memberangus lawan politiknya Soeharto. Dan kondisi masyarakat pada saat itu terbagi menjadi dua, ada yang pro Golkar (pemerintah) dan kontra Golkar. Partai Golkar sangat mudah meraup suara pemilihan umum, sehingga presiden Soeharto sangat mudah terpilih menjadi presiden melalui jalur ABG (ABRI, Birokrasi, Golkar). Pada saat itu Golkar ber-status The Single Majority (mayoritas tunggal). Ketika itu peran masyarakat sipil sangat di arahkan melalui birokrasi seperti PNS,dipolitisasi dengan cara monoloyalitas terhadap Golkar,yang menjadikan Pegawai Negeri Sipil dari sebagai abdi masyarakat menjadi abdi penguasa,Guru harus masuk ke lembaga PGRI(Persatuan Guru Republik Indonesia),KORPRI(Korps Pegawai Republik Indonesia) yang merupakan wadah untuk menghimpun seluruh Pegawai Republik Indonesia.Dan pada saat itu pelajar di Indonesia sebelum Sekolah harus mengikuti penataran P4(Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang bertujuan untuk mengimplementasikan sikap patriot yang sesuai Pancasila dan para siswa wajib menghafal 36 butir Pancasila.Sikap pelajar pada zaman dahulu lebih begitu baik dikarenakan belum begitu mengenal arus Globalisasi yang begitu pesat dan sangat menghargai orang yang lebih tua.Jika kita mengulas kehidupan pada masa Orde Baru,kita harus melihat sisi konteksnya terlebih dahulu.Semua pemimpin memiliki kelebihan dan kekurangan.
Komentar
Posting Komentar